IMG-20150506-WA0020-1

by sutan  2016-04-05 12:42:59 pm  25 views

Oleh: Ely Nurhidayati,  Mahasiswa Undip, Semarang

Tantangan perubahan iklim layak dijadikan pertimbangan dalam kebertahanan (resilience)dan berkelanjutan (sustainable) pengembangan kota.

Negara-negara maritim berbasis perairan baik itu laut, pesisir, sungai, danau dan kanal (parit) menjadikan wilayahnya terancam akibat perubahan iklim, dengan indeks kerentanan yang berbeda-beda dari indikator biofisik, ekologis, sosial-ekonomi, nilai budaya dan kepercayaan, kelembagaan, infrastruktur, keterlibatan dan pengetahuan masyarakat serta informasi badan penanggulangan rawan bencana.

Sejak adanya isu perubahan iklim banyak sekali model pengembangan kota sudah mempertimbangan aspek kebertahanan dan kerentanan (resilient and vulnerability),misalnya model Resilience Sosial Vulnerabiity Index (SoVI), Net Vulnerability Risilience Index (NVRI), Disaster Resilience of Place (DROP), Spatially Explicit Resilience Vulnerability (SERV)dan Climatic Hazard Resilience Indicators for Localities (CHRIL).

Model-model ini dapat diadaptasi sebagai alat analisis yang nantinya dapat dipertimbangkan dalam rumusan kebijakan yang mengarah pada upaya penilaian variabel mitigasi dan adaptasi di wilayah kota.

Perlu diketahui, keseimbangan alam juga harus diperhatikan, selain memanfaatkan aset sumberdaya air sebagai aset wisata. Pertimbangan variabel kerentanan (vulnerability)dalam mewujudkan kota yang tangguh atau bertahan (resilient).  Karena kota yang berkelanjutan tidak dapat terwujud,  tanpa adanya pertimbangan faktor pendorong dan penghambat dari aspek ekologi (wilayah perairan) yang dapat menjadi sebab terhadap keberlanjutan pengembangan kota tersebut.

Secara eksisting perkembangan spasial Kota Pontianak berkembang secara sporadis, berdasarkan hasil kajian dengan analisis data citra Landsat dalam empat time series selama 37 tahun menunjukkan luas area lahan terbangun pada tahun 1978 (6.24%), tahun 1989 (17.16%), tahun 2000 (29.82%) dan 2015 (66.95%), dengan perkembangan lahan terbangun rata-rata (30.04%).

Pemanfaatan guna lahan terbangun yang berkembang menunjukkan struktur dan pola lahan terbangun yangmengikuti pola aliran sungai dan jaringan jalan (Nurhidayati & Fariz, 2016). Jika kita melihat kota berbasis sungai seperti Sungai Seine di Paris, Kanal Amsterdam di Belanda, Kanal Panama di Panama, Kanal Stockholm di Swedia, Kanal Bruges di Belgia, Grand Canal Venice di Italia, Kanal Suzhou di China, Kanal Elbe Havel di Jerman, dan Kanal Alappuzha di India.

Tentunya Pontianak dengan sungai Kapuasnya juga tidak kalah menarik untuk dikembangkan potensinya sebagai tujuan wisata. Dengan potensi sungai dan kanal yang indah, jalur transportasi air dan jalur perdagangan, manfaat pengembangan kota berbasis perairan salah satunya dapat berkontribusi dalam pedapatan kas daerahnya dengan menjadi ikon sektor pariwisata di kotanya.

Tidak heran kota-kota yang memiliki potensi sumberdaya perairan giat mengikuti forum internasional contohnya yang masih segardiselenggarakan diantaranya, Waterfront Forumdi Liverpool Inggirs (2015), Global Liveable Cities di Singapore (2015) dan Resilience Cities di Bonn Jerman (2016).

Hal ini dilakukan untuk menghasilkan rumusan kebijakan dan arahan perencanaan dimasa mendatang setelah mengkaji beberapa permasalahan eksisting di setiap negara yang mewakili forum tersebut.

Dalam RTRW Kota Pontianak tahun 2013-2033 menguraikan perencanaan kawasan pariwisata sudah mengadopsi tema warisan budaya (cultural heritage) dan kawasan tepian sungai (waterfront city).

Implementasi kebijakan praktis direspon positif oleh pemerintah pusat. Pertama, kunjungan Presiden Jokowi tahun 2015 lalu telah meninjau salah satu kampung yang bernilai sebagai aset wisata budaya dan tepian sungai.

Kedua, Kepala Bappenas dalam kunjungannya ke Pontianak telah meninjau lokasi tepian Sungai Kapuas untuk mewujudkan skenario pengembangan kawasan tepian Sungai Kapuas.

Kebertahanan kota dicerminkan melalui local wisdom yang dimiliki beberapa wilayah yang berada di pesisir laut dan tepian sungai, diantaranya pola kebudayaan masyarakat, adaptasi bangunan dan infrastruktur permukiman yang  sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat (Nurhidayati, 2015).

Hal tersebut senada dengan upaya peningkatan kebertahanan yang diharapkan lebih fleksibel, dengan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan penggunaan lahan.

Salah satunya dengan mengidentifikasi upaya menghadapi risiko pada lahan terbangun masyarakat  (IPCC, 2012; UNISDR, 2005; UN; 2015). Oleh karenanya pengembangan Kota Pontianak sebagai kota berbasis perairan (riverine city) harus dipertahankan dan dilestarikan agar berkembang sebagai kota yang tangguh dan berkelanjutan (resilient and sustainable city). 

Dalam mewujudkan riverfront dan waterfront city diantaranya upaya struktural dan non-struktural menghadapi dampak ekologis, implementasi Perda wilayah perairan untuk menjaga eksistensi serta keberlanjutan kota berbasis perairan, dan penguatan kerjasama masyarakat-NGO-Pemda dalam Forum Group Discussion (FGD) agar antara kondisi eksisting, permasalahan di lapangan, perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi dapat berkesinambungan. (*)

TAGS:

Sumber: http://www.suarapemredkalbar.com/berita/opini/2016/04/05/pontianak-sebagai-kota-berbasis-perairan

Iklan