Cari

Ilmu dan Amal Bekal Akhirat

ely nurhidayati ali karim

mengapa kau lebih memilih musik daripada Qur’an ?

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Saudaraku, sudah lama saya ingin menulis bagaimana pandangan ulama tentang musik, setelah membaca beberapa lama. Akhirnya, saya kumpulkan kajian Islam tentang haramnya musik dari beberapa syaikh atau ulama serta kisah musisi yang bertaubat sebagai musisi kembali kepada Islam kaffah sesuai pedoman al-Qur’an dan sunnah.

Dapat disimpulkan musik (terutama yang bertema cinta & hawa nafsu) telah banyak melalaikan manusia dari mengingat اَللّهُ, berangan-angan, membangitkan syahwat (lirik berbahasa vulgar dan video klip berbungkus pornografi), sumber penyakit hati, perkataan sia-sia dan tidak bermanfaat sama sekali. Adapun perkataan yang lebih baik adalah perkataan اَللّهُ yang disampaikan dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an.

Sebagaimana riwayat Ibnul Qayim Al-Jauziyyah Rahimakumullah, bahwa Al-Qur’an dan musik tidak dapat menyatu dalam hati manusia. Sekali lagi kita diingatkan bahwa perjuangan di dunia ini adalah melawan godaaan syaithan (hawa nafsu yang menyesatkan) yang mengajak manusia melakukan perbuatan dosa hingga menyeret sebagai penghuni neraka bersama-sama syaithan نعوذ بالله من ذلك .

Iblis mati-matian berusaha memperdaya manusia, segala sesuatu yang dipandang baik untuk kehidupan akhirat dibuat iblis seolah-olah buruk dilakukan di dunia dan sebaliknya, segala sesuatu yang dipandang buruk untuk kehidupan akhirat dibuat iblis seolah-olah baik dilakukan di dunia.

Saya memperhatikan banyak sekali manusia saat ini, diistilahkan empty people or arrogant people sangat menikmati musik, entertainment, men-copy style, mode & gaya hidup mereka yg mungkin tidak sesuai diikuti, mengidolakan artis atau selebritis yang tidak kita ketahui siapa mereka sebenarnya, sebab mereka menampilkan sisi lahiriah saja (acting) karena “nilai jual” mmg dari situ.

Apa yang kita lihat hanya mereka dari luar saja padahal di dalam hati mereka hampa & kosong, bahkan mungkin mereka lupa siapa diri mereka, inilah yg dinamakan empty people. Setelah beberapa saat menikmati musik, segera mereka bosan dan bingung, beginilah terus menerus sampai mereka lupa siapa diri mereka.

Adapun orang-orang yang jika diberi nasehat dan kebenaran dari Qur’an serasa mereka tidak bersalah dan tidak membenarkan firman Allah ini, perhatikan semakin orang tersebut jauh dari mengingat Allah maka semakin keras hatinya untuk membedakan benar salah atau halal haram, bagi mereka sama saja.

Tidak ambil perduli dan terus menikmati apa yg menurutnya menyenangkan maka lakukan saja (memperturutkan hawa nafsu). Tanpa kesadaran utk bertaubat atas dosa-dosanya yg akan dipertanggungjawabkan di akhirat nnt.

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. 2:7)

Inilah arrogant people. Selalu saja ada pembenaran mereka menolak nasehat agama yg disampaikan, inilah akibat jika terlalu jauh mereka melupakan Allah. Maka Allah pun akan melupakan mereka, sampai-sampai mereka lupa siapa diri mereka sendiri.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7:179)

Banyak sekali kita melihat orang-orang yang seolah-olah bahagia dari luar (bahagia yg melampaui batas) padahal mereka sakit (secara mental), ini karena hati yang keras, berakhir pada lalai dan matinya hati. Sampailah pd perasaan putus asa dan kemudian bunuh diri jika terlambat diobati.

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (Q.S.Ar-Ra’d Ayat 26)

Manusia yang sibuk mendapatkan penghormatan dan penilaian orang lain, padahal itu sama sekali tidak berarti di mata Allah. Mengapa tidak kita kembalikan penilaian-penilaian tersebut diukur oleh penilaian Allah, sudahkah kita shalat wajib tepat waktu ?,

Sudahkah kita berbakti kpd orangtua ?, sudahkah kita bersedekah ?, sudahkah kita menutup aurat bagi muslimah ?,  sudahkah amal shaleh kita cukup untuk membeli surga Allah ?, sudahkah kita siap mati dan tinggal dikubur sampai hari kiamat tiba ?

Kebanyakan manusia berperilaku individualis, hedonis dan hati nuraninya tidak ada kasih sama sekali (walaupun bukan saudara atau siapapun mereka). Inikah value diri kita ?, sebagai manusia yang dididik & diajarkan nilai-nilai agama Islam, saling tolong menolong, memberi kpd yg membutuhkan.

“.. Dan tolong-menolonglah kamu sekalian dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..” (QS.Al-Maa’idah,5:2)

Akibat kerasnya hati sehingga manusia lupa esensi hidup sbg hamba dan ciptaan Allah, kepada-Nya kita berasal dan tempat kembali hanya kpd Allah. Renungkanlah  arti hidup yang sebenarnya…..

Banyak sekali kasus artis bunuh diri, karena mereka tidak tahu makna kebahagiaan yg sebenarnya, kebahagiaan mereka diukur dari materi & duniawi, padahal dunia pasti ditinggalkan jika mereka mati, mereka sdh sangat puas mendapatkan penilaian, pujian dan sanjungan dari manusia, mereka menghalakan perbuatan yg diharamkan Allah agar terlihat waaawww di mata manusia, padahal manusia dengan mudah dapat berpaling, sebagaimana Allah membolak-balikkan hati manusia.

Dunia ini sifatnya sementara. Harta hanya pinjaman, kecantikan hanya sementara, kesuksesaan juga ujian. Mudah bagi Allah untuk mengambil nikmat tersebut. Maka tidak boleh lupa diri dan lalai dari mengingat Allah, banyak-banyaklah bersyukur kpd Allah baik lisan & perbuatan.

Banyak org yg tidak memahami Islam, katanya musik meningkatkan & mengelola mood, apa yg terjadi setelah itu, mereka bosan, putus asa, bingung, mau apalagi waktu ini digunakan ?. Waktu terasa pendek bagi org yg memanfaatkan waktunya dengan baik, dan sebaliknya waktu dirasa panjang oleh org2 yang tidak mengisi waktunya dgn hal yg bermanfaat. Wallahu’alam smg kami dijauhkan dari sifat malas, kikir dan bakhil.

Imam Syafi’i Rahimullah, “Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada (malaikat) yang menghitung. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.” (Surat al-Mu’minuun [23] : 112-114)

Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari. (surat An-Naazi’aat [79] : 46)

Padahal jelas obat hati (salah satunya) dengan membaca dan mendengarkan Qur’an, apalagi ditingkatkan pd tahap mentadabburi, mengamalkannya dan menghafalkannya. Sebab banyak sekali manfaat dari membaca Qur’an, sepadankah Qur’an kita tinggalkan karena lebih mendengarkan musik ?

Rasulullah shollallahu ‘alahi wasallam bersabda,

“Allah tidak akan menyiksa hati orang yang menjaga Al-Qur’an” (HR. Imam Ad-Darimi)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al Qur’an dan mengajarkannya”.

“Orang yang mahir membaca al Qur’an bersama malaikat yang mulia lagi taat. Adapun orang yang membaca al Qur’an dengan terbata-bata dan berat atasnya maka baginya dua pahala”

Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.” (HR. Al-Hakim)

Saudaraku, janganlah terperdaya oleh tipu daya iblis, sesungguhnya  kehidupan akhirat adalah lebih baik disisi اَللّهُ dan kehidupan dunia dikatakan oleh Rasulullah SAW, “Demi Allah, DUNIA ini dibanding AKHIRAT ibarat seseorang yang mencelupkan JARINYA ke LAUT; air yang TERSISA di JARINYA ketika diangkat itulah NILAI DUNIA (AKHIRAT = LAUT).” (HR. Muslim).

Karena hidup manusia akan disesatkan oleh Iblis sampai hari kiamat. Iblis bersumpah utk memalingkan manusia dari mengingat اَللّهُ dan membawa mereka ke neraka bersama-sama iblis: “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Tuhan Yang Maha Pemurah, Kami kuasakan atasnya setan (yang menyesatkan), lalu setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Q.S al-Zukhruf: 36)

Iblis berkata: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Q.S Al A’raf: 16–17)

Iblis berkata : “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman : “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Q.S al-Hijr: 39-42)

Tentunya sebagai muslim yang taat sudah kewajiban kita untuk memahami agama tidak sebagian-sebagian, karena Islam adalah agama nasehat agar manusia tidak lalai dan tidak tersesat dari jalan yang lurus sebagaimana firman اَللّهُ Q.S AL-Fatihah : 6-7

اهْدِنَا الصرَط الْمُستَقِيمَ صِرَط الَّذِينَ أَنْعَمْت عَلَيْهِمْ غَيرِ الْمَغْضوبِ عَلَيْهِمْ وَ لا الضالِّينَ

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalannya orang-orang yang telah Kau beri nikmat. “Yaitu jalan orang-orang yang Kau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang tersesat.”

Website dalil (hadist shahih) tentang musik:

www.quranhadis.com/2015/04/musik-adalah-haram-meskipun-musik-atau.html?m=1

atau tambahan lainnya:

https://muslim.or.id/20706-benarkah-musik-islami-itu-haram.html

Your life is your choice, sebagai hamba ciptaan اَللّهُ sudah kewajiban utk taat & patuh thd semua perintah dan larangan اَللّهُ : “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah MENAATI ALLAH.” (Q.S an-Nisaa’: 80)

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku…” (Q.S Ali Imran: 31) “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami MENDENGAR, DAN KAMI PATUH.” Dan mereka itulah orang-orang yang BERUNTUNG.” (Q.S an-Nuur: 51)

“…Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT.” (Q.S al-Baqarah: 285)

Berikut ceramah-ceramah dari syaikh atau ulama berbicara tentang musik:

Berikut musisi yang bertaubat sebab mereka tidak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dari musik, mereka sangat bersyukur dapat berhijarah kpd Islam dan melepaskan kepopuleran. Setelah mengenal Islam mereka mendapatkan ketenangan & kebahagiaan hidup, Alhamdulillah….

Berikut musisi yang telah bertaubat, tetapi ada beberapa yang masih menjadikan musik sebagai media berdakwah:

Marilah saudaraku, hanya orang-orang yang berfikir dan berakal, hatinya mau menerima nasehat agama dan bertaubat kepada اَللّه . Saya pribadi mungkin sama dengan saudaraku muslim yg lain, juga sedang berusaha meraih ketakwaan (taat perintah & menjauhi larangan اَللّه)

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

اَللّه telah berkehendak kepada saya agar tidak lalai mengingat اَللّه.

Alhamdulillah…. folder musik di semua gadget tools sudah saya deleted. Saya ganti dgn mp3 Qur’an & ceramah tema Qur’an & Hadits. Agar bisa sewaktu-waktu dibaca dan didengarkan. Alhamdulillah….. insya Allah semakin sering mendengarkan Qur’an bisa sampai ke tahap menghafalkannya.

Hasilnya, saya menjadi lebih tenang dengan mengingat اَللّه saja (shalat, membaca Qur’an, shaum, mendalami agama & perkara sunnah lain). Semua pekerjaan & tugas dapat diselesaikan dengan mudah, selalu ada solusi dan pertolongan dari اَللّه melalui jalan yang tidak terpikirkan oleh saya, Subhanallah maha suci Allah….

“Dan sesungguhnya Kami memudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran?” (QS. 54:17).

“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepada kamu supaya kamu menjadi susah” (QS. 20:2).

“Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. 2:185)

Apalagi disela-sela kesibukan saya sempatkan membaca Qur’an walau hanya satu halaman, manfaatnya saya mendapatkan semangat & inspirasi menulis lebih banyak.

Banyak sekali kemudahan-kemudahan lain yg saya dapatkan setelah membaca Qur’an. Saya sangat bersyukur اَللّه memberikan hidayah-Nya utk mendalami bacaan Qur’an dan mengamalkannya.

Insya Allah atas kehendak اَللّه semoga saya istiqomah, bersyukur atas nikmat iman & islam yg diberikan اَللّه karena untuk mendapatkan hidayah ini  tidak bisa didapat kecuali dgn kita mendekat kpd  اَللّه 

“Dan Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qoff : 16 – 17)

”Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. tetapi kamu tidak melihat,” (QS. Al Waqi’ah : 85)

Sayangnya, sekarang walaupun sdh banyak kemudahan teknologi utk membaca Qur’an tetap saja, jarang sekali kita memberi perhatian lebih kpd Qur’an. Justru teknologi internet, gadget dan sosmed bukan mempermudah tetapi menjauhkan kita dari Qur’an.

Terkadang saya menangis saat mendengarkan bacaan Qur’an apalagi mentadaburrinya, benar-benar ayat Qur’an ini memiliki kekuatan (susah utk dijelaskan) perasaan yg bercampur antara takut, harap, cemas & bahagia. Allahu akbar, Allah maha besar….

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at bagi orang yang membacanya.” Hadist Riwayat Muslim

 الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Katakanlah : “ Adakah sama orang-orang  yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?  “ Sesungguhnya orang yang ber-akal-lah yang dapat menerima pelajaran (Q.S Az Zumar  : 9)   memanfaatkan akalnya)

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,  ( Ar Ra’d : 19 ), (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian” ( Ar Ra’d : 20)

“ Yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang–orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang–orang yang berakal.”  ( Az Zumar : 18)

“Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalahmendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (taubat)  (kepada Allah).“  ( Al Ghaafir : 13)

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. ”  ( Ali Imran : 190 )

Apa yang kamu pillih sekarang akan menentukan kamu di masa depan (kehidupan di akhirat yang kekal), kenikmatan di akhirat adalah kenikmatan di surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Jangan sampai menyesal ketika nyawa sudah di tenggorokan, maka taubat kita tidak diterima اَللّهُ  Wallahu’alam bis showab

Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran : 133)

Dari Abdullah bin Umar -radhiallahu anhuma- dari Nabi -alaihishshalatu wassalam- beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.” (HR. At-Tirmizi no. 1531, Ibnu Majah no. 3407, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1309)

  اِ نْ شَآ ءَ  اللّهُ kita semua mendapat i’tibar (pelajaran) dan hikmah dari sini اَمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن

Sumber: ilmu hanya milik اَللّه  سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى

Iklan

AURG 2016 in Unhas Makassar

بِسْمِ اللّهِ الرَّالرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

Beberapa foto dokumentasi….

Openingnya, salah satu keynote speakernya Akira Ohgai, Chairman of the 10th International Symposium Program Committee, AURG Executive Trustee, Vice-president Toyohashi University of Technology, Japan

Snapshot_2016-4-6_0-38-0Opening session

CommemorativePhoto-1Closing session

Snapshot_2016-4-6_0-36-57Dinner 1st day di rumah rektor Unhas..kok aku kecil banget ya dipojokan pake jilbab coklat hehe..

IMG-20160110-WA0004Tim pemakalah dari Undip (Ki-ka: Ibrahim Tohar, Livian Teddy, Ely Nurhidayati, Avi Marlina)

IMG-20160112-WA0034Dinner 2nd day di rumdin Walikota. Mana penampakan tim Undip ya, kayaknya lg ngantri jatah deh…

At that time was the special moment for us, cos bu Avi Marlina dapet penghargaan sebagai best paper Alhamdulillah ( الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ  الْعَالَمِيْن ), cieee bu Avi foto sama Akira Ohgai…..

Next, AURG selanjutnya diadakan di Nanjing, China.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

See yaa…

Resilient Cities 2015 Photo Contest

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

IMG-20150506-WA0020Foto ini ga ada hubungannya sama judul ya…untuk mengenang perpustakaan lama PDTAP di kampus Undip Pleburan sajalah (Ki-ka: Imam Santoso, Livian Teddy, Ely Nurhidayati, Asep Yudi Permana, “…lupa”)

Ini aku copas dari website (sumbernya dibawah), Alhamdulillah ( الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن ) terseleksi sebagai honorable mention untuk kontes foto (foto dari penelitian bisa, survey juga okelah yang penting hasil karya sendiri ya). 

Congratulations to Ms. Sayamon Saiyot, winner of the Resilient Cities 2015 Photo Contest!

Sayamon is a student at the Yokohama National University, conducting research on how to enhance community resilience against flooding in Thailand. Sayamon’s photo has embodied our contest theme: “Testimonies of resilience: Snapshots capturing successful climate change adaptation actions in your city or community” in the most skillful and intuitive way.  Her photo entitled: “Daily Life” exhibits an everyday moment in the life of a traditional Thai community living with the reality of recurring floods. This picture was taken in September 2013 in Pathumthani province, Thailand.

Although Thai communities are accustomed to the annual “flood season”, in 2011, the country experienced an unusual and extreme flood event, affecting more than 13million and claiming the lives of more than 800 people. Sixty-five of Thailand’s seventy seven provinces were declared flood disaster zones, including Bangkok and several major cities in central Thailand. This severe flood crisis reinforced the opinions of local communities and their leaders to invest individually and collectively, financially and emotionally in climate change adaptation and resilience.

The water trail demarcating the 2011 flood level is visible on most buildings in Thai communities and remains as a reminder for all of the disaster. This reality has been captured in Sayamon’s photo, where the water trail – several meters above the ground – is clearly visible on the buildings in the background.

Daily Life: I am a farmer. I have a small water vegetables garden along this canal. I have a boat I typically use in the garden. Have you seen the water trail above the window? Yes, a boat saved my life during the mega flooding (in Thailand)

Thank you, Sayamon for sharing this photo with the Resilient Cities community. And thank you to all those who participated at the Photo Contest! We were pleased to receive a large number of diverse, original, high quality photographs, which we’ve enjoyed reviewing.

Our honorable mentions go to:

Ms. Ely Nurhidayati, who conducted her research project on floating settlements in Tanjung Mekar village, located on the Sambas River in Indonesia in 2010.

In the floating settlement illustrated below, the community has shown their resilience to living in extremely vulnerable to flooding conditions. Their response to the imminent threat of flood was to adjust their homes and adapt their entire lives to living on the river, instead of under it.

Floating village in Indonesia: Adjusting Infrastructure to climate change effects

Mr. Ramiz Khan, Senior Project Officer at the ICLEI South Asia Secretariat, who submitted three relevant to our ICLEI agendas photos. The one below has been selected as a representative of climate change adaptation actions in the cities of Howrah and Kolkata, India.

Local climate resilience-building actions in South Asian cities

Sumber : http://resilientcities2015.iclei.org/photo-contest/photo-contest-winner.html

Kebertahanan Kota Berbasis Perairan: Tinjauan Spasial di Kota Pontianak

IMG-20150506-WA0020-1

by sutan  2016-04-05 12:42:59 pm  25 views

Oleh: Ely Nurhidayati,  Mahasiswa Undip, Semarang

Tantangan perubahan iklim layak dijadikan pertimbangan dalam kebertahanan (resilience)dan berkelanjutan (sustainable) pengembangan kota.

Negara-negara maritim berbasis perairan baik itu laut, pesisir, sungai, danau dan kanal (parit) menjadikan wilayahnya terancam akibat perubahan iklim, dengan indeks kerentanan yang berbeda-beda dari indikator biofisik, ekologis, sosial-ekonomi, nilai budaya dan kepercayaan, kelembagaan, infrastruktur, keterlibatan dan pengetahuan masyarakat serta informasi badan penanggulangan rawan bencana.

Sejak adanya isu perubahan iklim banyak sekali model pengembangan kota sudah mempertimbangan aspek kebertahanan dan kerentanan (resilient and vulnerability),misalnya model Resilience Sosial Vulnerabiity Index (SoVI), Net Vulnerability Risilience Index (NVRI), Disaster Resilience of Place (DROP), Spatially Explicit Resilience Vulnerability (SERV)dan Climatic Hazard Resilience Indicators for Localities (CHRIL).

Model-model ini dapat diadaptasi sebagai alat analisis yang nantinya dapat dipertimbangkan dalam rumusan kebijakan yang mengarah pada upaya penilaian variabel mitigasi dan adaptasi di wilayah kota.

Perlu diketahui, keseimbangan alam juga harus diperhatikan, selain memanfaatkan aset sumberdaya air sebagai aset wisata. Pertimbangan variabel kerentanan (vulnerability)dalam mewujudkan kota yang tangguh atau bertahan (resilient).  Karena kota yang berkelanjutan tidak dapat terwujud,  tanpa adanya pertimbangan faktor pendorong dan penghambat dari aspek ekologi (wilayah perairan) yang dapat menjadi sebab terhadap keberlanjutan pengembangan kota tersebut.

Secara eksisting perkembangan spasial Kota Pontianak berkembang secara sporadis, berdasarkan hasil kajian dengan analisis data citra Landsat dalam empat time series selama 37 tahun menunjukkan luas area lahan terbangun pada tahun 1978 (6.24%), tahun 1989 (17.16%), tahun 2000 (29.82%) dan 2015 (66.95%), dengan perkembangan lahan terbangun rata-rata (30.04%).

Pemanfaatan guna lahan terbangun yang berkembang menunjukkan struktur dan pola lahan terbangun yangmengikuti pola aliran sungai dan jaringan jalan (Nurhidayati & Fariz, 2016). Jika kita melihat kota berbasis sungai seperti Sungai Seine di Paris, Kanal Amsterdam di Belanda, Kanal Panama di Panama, Kanal Stockholm di Swedia, Kanal Bruges di Belgia, Grand Canal Venice di Italia, Kanal Suzhou di China, Kanal Elbe Havel di Jerman, dan Kanal Alappuzha di India.

Tentunya Pontianak dengan sungai Kapuasnya juga tidak kalah menarik untuk dikembangkan potensinya sebagai tujuan wisata. Dengan potensi sungai dan kanal yang indah, jalur transportasi air dan jalur perdagangan, manfaat pengembangan kota berbasis perairan salah satunya dapat berkontribusi dalam pedapatan kas daerahnya dengan menjadi ikon sektor pariwisata di kotanya.

Tidak heran kota-kota yang memiliki potensi sumberdaya perairan giat mengikuti forum internasional contohnya yang masih segardiselenggarakan diantaranya, Waterfront Forumdi Liverpool Inggirs (2015), Global Liveable Cities di Singapore (2015) dan Resilience Cities di Bonn Jerman (2016).

Hal ini dilakukan untuk menghasilkan rumusan kebijakan dan arahan perencanaan dimasa mendatang setelah mengkaji beberapa permasalahan eksisting di setiap negara yang mewakili forum tersebut.

Dalam RTRW Kota Pontianak tahun 2013-2033 menguraikan perencanaan kawasan pariwisata sudah mengadopsi tema warisan budaya (cultural heritage) dan kawasan tepian sungai (waterfront city).

Implementasi kebijakan praktis direspon positif oleh pemerintah pusat. Pertama, kunjungan Presiden Jokowi tahun 2015 lalu telah meninjau salah satu kampung yang bernilai sebagai aset wisata budaya dan tepian sungai.

Kedua, Kepala Bappenas dalam kunjungannya ke Pontianak telah meninjau lokasi tepian Sungai Kapuas untuk mewujudkan skenario pengembangan kawasan tepian Sungai Kapuas.

Kebertahanan kota dicerminkan melalui local wisdom yang dimiliki beberapa wilayah yang berada di pesisir laut dan tepian sungai, diantaranya pola kebudayaan masyarakat, adaptasi bangunan dan infrastruktur permukiman yang  sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat (Nurhidayati, 2015).

Hal tersebut senada dengan upaya peningkatan kebertahanan yang diharapkan lebih fleksibel, dengan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan penggunaan lahan.

Salah satunya dengan mengidentifikasi upaya menghadapi risiko pada lahan terbangun masyarakat  (IPCC, 2012; UNISDR, 2005; UN; 2015). Oleh karenanya pengembangan Kota Pontianak sebagai kota berbasis perairan (riverine city) harus dipertahankan dan dilestarikan agar berkembang sebagai kota yang tangguh dan berkelanjutan (resilient and sustainable city). 

Dalam mewujudkan riverfront dan waterfront city diantaranya upaya struktural dan non-struktural menghadapi dampak ekologis, implementasi Perda wilayah perairan untuk menjaga eksistensi serta keberlanjutan kota berbasis perairan, dan penguatan kerjasama masyarakat-NGO-Pemda dalam Forum Group Discussion (FGD) agar antara kondisi eksisting, permasalahan di lapangan, perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi dapat berkesinambungan. (*)

TAGS:

Sumber: http://www.suarapemredkalbar.com/berita/opini/2016/04/05/pontianak-sebagai-kota-berbasis-perairan

Elmart : ada dan tiada dari Allah Swt

image

image

Do’aku 18 Februari

image

Ya Allah,Kau ciptakan kami dari tiada, menjadi ada
Kemudian Kau kembalikan kami kepada-Mu
Kehidupan kami bejalan dan berputarsesuai dengan kehendak-Mu 
Ya Allah,Hari ini tiba juga aku di usia ini
Hari di mana aku harus menjadi lebih bijaksana
Hari di mana aku harus menjadi lebih dekat dengan-Mu
Hari di mana aku harus bisa menjadi teladan bagi orang lain
Ya Allah,Panjangkanlah usiaku agar hidupku menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih memandang hidup dengan penuh makna dalam kebesaran-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat membimbing keluargaku untuk dapat tunduk dan berbakti kepada-Mu
Panjangkanlah usiaku agar aku dapat lebih bersyukur atas nikmat dan rizqi yang Engkau anugerahkan kepadakuYa Allah,
Jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang khusyu’ dan tawadhu’dalam menerimah hikmah dan berkah-Mu
Bertambah usia dalam hitunganku berkurang pula usiaku dalam hitungan-MuYa Allah,Terima kasih Engkau telah mengangkatku menjadi makhluk dengan derajat yang tinggi
Terima kasih engkau telah memberikan cahaya keimanan kepadaku sehingga aku dapat lebih mengenal-Mu,
Ya Allah,Aku percaya bahwa Engkau akan selalu berikan yang terbaikuntuk diriku, keluargaku, orang tuaku dan semua sahabat sejatiku, yang selalu peduli padaku
Hanya pada-Mu lah aku senantiasa mengabdi dan Hanya pada-Mu lah aku memohon pertolongan
Kabulkanlah do’a hamba-Mu ini Ya Allah..
Amin..amin..amin.. Yaa Robbal ‘Alamin..

**Do’a bertepatan dengan hari kelahiranku

Copas : http://www.isdaryanto.com/doa-hari-ulang-tahun-islami

Kisah HAMKA (Part 6)

Profile Buya Hamka, Seorang Ulama, Penulis dan Aktivis Politik

image

JAKARTA-VOA-ISLAM – Buya Hamka lahir tahun 1908, di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah, disingkat menjadi HAMKA. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayah kami, atau seseorang yang dihormati. Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang dikenal sebagai Haji Rasul, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. HAMKA (1908-1981), adalah akronim dari nama beliau sebenarnya yaitu Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenal sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. HAMKA mendapat pendidikan dasar di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas Dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ HAMKA mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. HAMKA juga pernah mengikuti pelajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjoparonto dan Ki Bagus Hadikusumo. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau aktif dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padangpanjang pada tahun 1929. HAMKA kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padangpanjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau aktif dalam politik Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat meneliti karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjoparonoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Beliau ikut bergabung di Muhammadiyah sejak tahun 1925 untuk melawan khurafat, bidaah, tarekat dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Pada tahun 1928, beliau menjadi ketua cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Kemudian pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Pada tahun 1946 beliau terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat pada Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto. Beliau menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950. pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletakan jabatan tersebut pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. kemudian pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletakan jabatan tersebut pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia. Kegiatan politik HAMKA bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang kedatangan kembali penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, HAMKA dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi orator utama dalam Pemilihan Umum 1955. Masyumi kemudian diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun1966, HAMKA telah dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa di penjaraka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, HAMKA dilantik sebagai ahli Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia. Selain aktif dalam bidang keagamaan dan politik, HAMKA juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, HAMKA menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Suara Islam, Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. HAMKA juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam. Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan novel-novelnya yang mendapat perhatian luas dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura di antaranya adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli. Hamka pernah menerima beberapa penghargaan pada tingkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelaran Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Hamka berpulang ke rahmatullah pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam meninggikan agama Islam. Beliau tidak saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sastrawan di negara kelahirannya, namun juga di Malaysia dan Singapura.

Sumber : http://referensidunia.blogspot.com/2011/02/buya-hamka-seorang-ulama-penulis-dan.html?m=1

Kisah HAMKA (Part 5)

Buya Hamka tentang Bahaya Kontes Kecantikan Miss World

image

Yang Pindah agama itu telah banyak, tetapi lebih banyak lagi yang lepas lolos dari ikatan Islam, tersapu habis pandangan dan cinta Islam dari dalam hatinya.”-Buya Hamka.Penyelenggaraan Miss World tahun 2013, yang sebentar lagi akan berlangsung nampaknya akan terus melaju. Meskipun penyelenggaraan itu menuai kecaman dari umat Islam di Indonesia. Pendapat kontra sudah kita sering dengar gaungnya, mulai dari umbar aurat, pelecehan terhadap martabat perempuan hingga bau kapitalisasi perempuan. Bahkan sejarah mencatat di Amerika Serikat sana pun, penyelenggaraan Miss America telah dikecam puluhan tahun silam oleh pegiat feminis.[1]Miss World yang akan singgah dalam tanah air kita ini sebetulnya bukan barang baru. Kecaman ulama terhadap kontes-kontes semacam ini juga bukan sesuatu aneh dikolong langit nusantara. Ulama besar Buya Hamka pernah mengecam kontes semacam ini. Ia bertutur,“Orang-orang perempuan maju kemuka berlomba merebut kehidupan, sehingga alat-alat penghias diri, alat-alat kecantikan lebih melebihi mahalnya. Kemudian muncullah lomba kecantikan,memperagakan diri, lomba ratu-ratuan. Perempuan muda yang cantik tampil ke muka mendedahkan (memamerkan) dada, pinggul, dan pahanya,di tonton bersama dan diputuskan oleh juri siapa yang lebih cantik tampil ke muka mendedahkan. Maka ratu-ratu kecantikan itu jangan sampai menurun. Dan ini pun menghendaki perbelanjaan banyak dan mewah. Macam-macam nama yang diberi bagi ratu-ratu itu; Ratu Personality, Ratu luwes, Ratu daerah, Ratu Propinsi, Ratu Nasional, dan Ratu internasional.”[2]Tepat sekali ucapan Buya Hamka. Miss World hanyalah satu dari sekian banyak ajang eksploitasi perempuan. Kontes semacam ini hanya berganti-ganti kulitnya. Beribu nama bisa tercetus, namun esensinya tetap sama. Bahkan pencitraan perempuan dengan mitos-mitos tertentu tentang kecantikan, sudah membanjiri pikiran terdalam kita. Melalui, iklan, sinetron, dan lainnya. Lebih mengenaskannya lagi, mulai dari penyelenggara, peserta hingga penikmatnya adalah orang Islam itu sendiri.Salah satu akar dari kerusakan ini adalah lenyapnya pengetahuan di masyarakat akan kedudukan perempuan dalam Islam. Orang Islam tak lagi memahami kedudukan perempuan dalam agama mereka, sehingga mereka mengamini tatkala ajang seperti Miss World disebut promosi kebudayaan, ekspresi wanita atau lebih mengenaskan lagi penghargaan pada perempuan.Sebagian orang Islam saat ini sampai meraba-raba dalam kegelapan pengetahuan, bagaimana cara menghargai perempuan. Sehingga jebakan Kontes ratu-ratuan hingga mitos kecantikan dijadikan pegangan. Sementara kedudukan perempuan yang telah digariskan Islam digugat dan diseret ke muka umum. Diskriminasi dijadikan senapan untuk membidik ajaran Islam.  Orang Islam yang hendak mencari penghargaan diluar Islam, sejatinya tak paham bahwa mereka makin terperosok jauh ke dalam lembah kerancuan.Hendaklah kita resapi nasehat dari Buya Hamka tatkala berbicara penghargaan perempuan dalam Islam. Menurutnya,“Mereka (perempuan) dipandang sebagai bagian yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam memikul tanggung jawab beragama, mengokohkan aqidah dan ibadat, sehingga timbullah harga diri yang setinggi-tingginya pada mereka, timbul ilham perjuangan.”[3]Ketidakpahaman juga seringkali dialamatkan kepada pembagian tugas laki-laki (suami) dan perempuan (istri).  Ajaran Islam mengenai pembagian tugas kepada istri sebagai pemelihara rumah tangga dianggap rantai yang membelenggu. Dihakimi ramai-ramai dalam tuduhan diskriminasi. Insyaflah kita ketika dalam hal ini ketika mengingat keterangan Buya Hamka,“Hanya perempuan yang kurang sehat jiwanyalah yang akan ingkar pada pembagian tugas seperti ini. Atau perempuan yang gagal di dalam rumah tangga lalu dia ‘kasak-kusuk’ menontonkan diri keluar minta persamaan hak dengan laki-laki, namun dia tak kenal lagi di mana batas hak itu.”[4]Perihal pembagian peranan dalam rumah tangga, Buya Hamka mengingatkan, “Pengorbanan! Itulah yang selalu diminta dari kedua belah pihak. Yang laki-laki sampai putih rambut di kepala, mencarikan keperluan rumah tangga. Yang perempuan habis; tenaga, memelihara rumah tangga, menyelenggarakan suami, mendidik anak-anak. Keduanya sama-sama berkurban!”[5]Seandainya saja kita semua sebagai umat Islam memahami kedudukan perempuan dalam Islam, niscaya kita tidak akan tertipu dalam kemasan kosong kontes ratu-ratuan atau pencitraan rapuh tentang perempuan. Namun tantangan tak berhenti di situ. Kontes ratu-ratuan ala Miss World juga menggunakan promosi kebudayaan sebagai topeng. Kita yang menentang Miss World mungkin akan  dianggap tak berbudaya atau anti budaya. Batin ini tentu bertanya-tanya, kebudayaan macam apa yang hendak diusung Miss World?Umat Islam di Indonesia sudah seringkali disudutkan dan dibenturkan dengan persoalan budaya. Umat semakin terjerembab ketika tak mampu untuk menafsirkan, kebudayaan apa yang sesuai dengan Islam di Indonesia ini? Padahal hanya dengan memahami hakekat budaya itu sendiri umat Islam akan mampu menepis beragam gelombang tantangan budaya ini.Salah satu usaha menafsirkan kebudayaan ini juga datang puluhan tahun yang silam oleh Buya Hamka. Menurut Buya Hamka penting bagi generasi muda Islam untuk memperdalam pengetahuan ajaran Islam dan mempelajari sejarah umatnya di Indonesia dan diluarnya,“…sehingga dia insyaf bahwa kebudayaan Islam itu universil sifatnya. Dan kebudayaan yang universil itulah tujuan terakhir dunia di zaman ini. Dan Nasionalisme sempit, tidaklah panjang usianya.”[6]Budayawan Islam diingatkan Buya Hamka untuk kembali mengambil bagian dalam perkembangan kebudayaan, serta melakukan risalah-nya (tugasnya) yang suci itu untuk mengisi kebudayaan dunia. Karena terlihat di Indonesia -mengutip istilah Buya Hamka- ‘gejala pancaroba kebudayaan.’ Seperti budaya materialistis, kebudayaan menuhankan manusia. Kebudayaan yang tak lagi melihat manfaat dan mudharat, yang tak kenal lagi halal dan haram. Umat Islam hendaknya jeli untuk menafsirkan dan mewarnai kebudayaan, karena ada berbagai upaya untuk memasukkan agama menjadi bagian dari budaya. Padahal budaya adalah hasi kegiatan manusia. Sedangkan agama adalah wahyu.Budaya atau kebudayaan dapat dipahami sebagai usaha dan hasil usaha-usaha manusia menyelesaikan kehendaknya buat hidup dengan alam yang ada di kelilingnya. [7] Menurut Buya Hamka semua manusia yang berakal-budi adalah berbudaya, sebab budaya adalah hasil akal budi yang dipengaruhi ruang dan waktu, serta masyarakat yang mengelilinginya. Maka bagi Islam, kebudayaan haruslah diterangi oleh iman.“Maka adalah iman sebagai pemberi cahaya bagi akal budi dan daya-upaya dalam hidup, hendaklah menjadi amalnyayang saleh!”, terang Buya Hamka.[8]Ketika dalam masyarakat telah dipahami bahwa kebudayaan terdiri dari tiga hal, pengetahuan, filsafat dan seni, maka hal-hal itu perlu diterangi cahaya Iman. Buya Hamka kembali mengingatkan, “Islam mengajarkan bahwasanya di dalam mencari ilmu pengetahuan,atau filsafat atau seni, satu hal perlu diingat. Yaitu betapa nilainya bagi jiwa. “ Kemudian beliau melanjutkan, “…Disamping mencari yang benar dan mengelakkan yang salah, atau mencari yang baik dan menjauhi yang jahat, haruslah diperhatikan yang manfaat dan yang mudharat itu.”[9]Dan sejarah telah mencatat, baik di dunia dan di Indonesia, cahaya Islam telah menerangi berbagai aspek kebudayaan. Islam-lah yang memberi kita budaya yang lebih beradab. Islamlah yang memberikan pakaian keindahan. Memakaikan pakaian dan menutupkan aurat bagi orang-orang yang sebelumnya telanjang. Islam pula yang mewarnai bahasa lisan dan tulisan di nusantara dengan huruf arab-jawi atauhuruf Pegon. Sebelum semuanya dilindas secara tragis oleh huruf latin yang dibawa oleh penjajah. Terlebih dalam bahasa, Bahasa Indonesia demikian jernih terlihat diwarnai oleh bahasa melayu yang diterangi kosa-kata berjiwa islam, seperti adil, wilayah, hikmah, dan lainnya. Karya sastra klasik juga diwarnai jiwa Islam, baik oleh Raja Ali Haji atau Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Betapa banyak hikayat dan syair berjiwa jihad yang membakar semangat perang melawan penjajah. Sebut Hikayat Perang Sabi dari tanah Aceh sebagai salah satu contohnya.[10]Bahkan menurut Buya Hamka, “Hindu telah meninggalkan pusaka berupa candi-candi yang sekarang dijadikan barang antik bernilai sejarah, untuk opbyek turis, untuk mencari riwayat lama pada batu-batu. Tetapi Islam telah meninggalkan Mesjid yang hidup setiap hari dan ramai setiap Jumat.”[11]Tak heran jika kita sebagai muslim patut berbangga dengan Islam yang telah mewarnai kebudayaan Indonesia. Dan tak patut kita merasa rendah diri dengan Islam jika berbicara kebudayaan, sedang Buya Hamka berani dengan lantang berkata,“Dengan tegas dan berani mempertanggung-jawabkan, dapatlah saya katakan bahwa modal yang diberikan Islam yang paling terbanyak, yang diberikan untuk membangun kebudayaan Indonesia.[12]Kebudayaan ibarat air sungai yang mengalir, ia memberi dan menerima. Sudah menjadi tanggung jawab kita mengaliri air itu dengan kejernihan Tauhid Islam. Dan salah satu cara memandang kebudayaan adalah dengan meresapi nasehat dari Buya Hamka perihal kebudayaan ini,“Hendaklah angkatan Muda Islam memperdalam pengetahuan dan pengertian ajaran Islam, dituruti dengan amal, sehingga menjadi pandangan hidup yang sebenarnya, dan dapat membanding ‘mana yang punya kita dan mana yang kepunyaan orang lain’.”[13]Racun pembunuh bangsa bernama Miss World ini hanyalah satu dari sekian banyak kerusakan yang hendak disuntikkan perlahan kepada generasi kita dan penerus kita. Ketika penyelenggara Miss World sesumbar berkata mendompleng kuda troya Kebudayaan, maka kita dapat bertanya lantang, kebudayaan mana yang hendak mereka maksud? Medan perjuangan begitu lapang terbentang, termasuk dalam bidang budaya. Dan seperti hendak Buya Hamka pesankan,“Modal menghadapi perjuangan kebudayaan masih amat terbatas dan kerdil, sebab itu maka, ‘dengan kail panjang sejengkal, tidaklah ada daya upaya menduga lautan’.”[14]1. J. Dow, Bonnie. Feminism, Miss America, and Media Mythology. Rethoric & Public Affairs. Vol 6, No.1. 2003.2. HAMKA. Racun Pemusnah Bangsa dalam Dari Hati ke Hati. Pustaka Panjimas. 2005. Jakarta.3. HAMKA, Perempuan Juga Dimuliakan dalamKedudukan Perempuan dalam Islam. Pustaka Panjimas. 1986. Jakarta.4. HAMKA, Pembagian Tugas dalam Kedudukan Perempuan dalam Islam. Pustaka Panjimas. 1986. Jakarta.5. Ibid.6. HAMKA. Kebudayaan Dipandang Dari Segi Ajaran Islam dalam Pandangan Hidup Muslim. Bulan Bintang. 1992. Jakarta.7. Ibid.8. Ibid.9. Ibid.10. Alfian, Ibrahim. Sastra Perang, Sebuah Pembicaraan Mengenai Hikayat Perang Sabil. Balai Pustaka. 1992. Jakarta.11.  HAMKA. Kebudayaan Dipandang Dari Segi Ajaran Islam dalam Pandangan Hidup Muslim. Bulan Bintang. 1992. Jakarta.12. Ibid13. Ibid14. IbidOleh : Beggy – Pegiat JIB (Jejak Islam untuk Bangsa)

sumber : http://www.voa-islam.com/counter/liberalism/2013/09/02/26607/buya-hamka-tentang-bahaya-kontes-kecantikan-miss-world/

Kisah HAMKA (Part 4)

Buya Hamka: Vonis Sesat terhadap Wahabi Direkayasa untuk Gurita Kolonialisme

image

Oleh: Zulkarnain Khidir
Mahasiswa Universitas Prof. DR. HAMKA, Jakarta

Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan umat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh umat Islam itu sendiri.Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudl “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kahzab!Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Umat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Umat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari sumatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari Sumatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!” Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika umat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya umat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam.[voa-islam.com]

Sumber : http://m.voa-islam.com//news/liberalism/2011/12/03/16891/buya-hamka-vonis-sesat-terhadap-wahabi-direkayasa-untuk-gurita-kolonialisme/

Atas ↑